Laman

Selasa, 30 April 2019

Setelah Kehidupan ada Kematian

Hasil gambar untuk muslimah.or.id takut Allah


Nasehat Muslim

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذَا أَصْبَحَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ بِك أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِك نَحْيَا، وَبِك نَمُوتُ، وَإِلَيْك النُّشُورُ» «وَإِذَا أَمْسَى قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ، أَلَا أَنَّهُ قَالَ: وَإِلَيْك الْمَصِيرُ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ.
1460. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, "Apabila masuk waktu pagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca doa, "Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup, dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mulah kami dikumpulkan." Dan apabila memasuki waktu sore beliau membaca seperti itu juga, hanya saja di akhir beliau baca, "Dan kepada-Mulah tempat kembali semua makhluk." (HR. Al-Arba'ah)
[Shahih: Abi Dawud (5078)]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]
Tafsir Hadits
Berkaitan dengan batasan waktu, yakni dengan kekuatan-Mu, kekekuasaan dan kemurahan-Mu kami memasuki waktu subuh, karena Engkaulah Yang mewujudkan kami dan Yang mewujudkan waktu subuh. Demikian juga halnya dengan waktu sore.
An-Nusyuur artinya membangkitkan sesuatu yang sudah mati. Hubungannya dengan doa ini: tidur adalah saudara kematian, ketika seseorang terbangun dari tidurnya, seakan-akan ia baru bangkit dari kematian. Waktu sore disebut mashiir (tempat kembali) karena waktu itu orang-orang akan kembali tidur, seolah-olah sedang menghadapi kematian. Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa segala kenikmatan asalnya dari Allah Ta'ala.

[سبل السلام]
Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram






nasehat-muslim blogpsot co id

Sabtu, 27 April 2019

Memohon pada Allah; Kebakan Dunia dan Akhirat


Hasil gambar untuk muslim.or.id berkata baik



Nasehat Muslim

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: «كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
1461. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, "Doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah adalah, "Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (Muttafaq Alaih)
[Shahih: Al Bukhari 4150 dan Muslim 2690]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]
Penjelasan Kalimat
"Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, "Doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah adalah, "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Iyadh berkata, "Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa dengan doa ini karena doa ini mencakup seluruh makna-makna doa, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat." Ia juga berkata, "Menurut mereka, makna Al-hasanah (kebaikan) adalah nikmat. Oleh karena itu, beliau meminta kenikmatan dunia dan akhirat serta diselamatkan dari adzab. Semoga Allah Ta'ala menganugerahkan kenikmatan kepada kita tersebut.
Tafsir Hadits
Banyak tafsiran kata al-hasanah (kebaikan) yang disebutkan oleh para ulama salaf. Ibnu Katsir berkata, "Kebaikan dunia di sini mencakup semua keperluan duniawi, seperti kesehatan, tempat tinggal yang luas, isteri yang baik, anak yang berbakti, rezeki yang lapang, ibnu yang bermanfaat, amalan yang shalih, kendaraan yang bagus, pakaian yang bagus dan keperluan-keperluan lain yang termasuk dalam kategori kebaikan dunia. Adapun kebaikan akhirat yang tertinggi adalah masuk ke dalam surga dan dan keamanan yang berkaitan dengannya. Selamat dari api neraka yaitu terhindar dari sebab-sebab yang dapat memasukkan seseorang ke dalam api neraka semasa di dunia, seperti menghindarkan diri dari perkara yang diharamkan, meninggalkan syubhat-syubhat atau mendapat keampunan dari Allah Ta'ala."
Maksud perkataan Ibnu Katsir: keamanan yang berkaitan dengannya adalah berkaitan dengan apa yang telah disebutkan, bukan yang hakiki.

[سبل السلام]
Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram







nasehat-muslim blogpsot co id

Jumat, 26 April 2019

Mohon Ampunan kepada Allah

Hasil gambar untuk sedih muslim.or.id



Nasehat Muslim


وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَدْعُو: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرَتْ، وَمَا أَسْرَرْت، وَمَا أَعْلَنْت، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
1462. Dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berdoa, "Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, perbuatanku yang melewati batas dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Ya Allah, ampunilah urusanku yang sungguh-sungguh maupun yang bercanda, kesalahan yang tidak disengaja maupun yang disengaja. Semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang aku lakukan dahulu maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkau adalah yang mendahulukan dan yang mengakhirkan dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (Muttafaq Alaih)
[Shahih: Al Bukhari 6035 dan Muslim 2719]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]
Tafsir Hadits
Khathiah artinya dosa-dosa. Al-jahlu (bodoh) lawan dari berilmu. Israaf artinya segala sesuatu yangmelampaui batas. Fii amri (urusanku) berkaitan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya atau hanya berkaitan dengan israaf.
Sabda Nabi, "yang sungguh-sungguh," yaitu sesuatu yang aku lakukan sungguh-sungguh, lawannya dari canda atau gurau.
Sabda beliau "kesalahan yang sengaja ataupun yang tidak disengaja," termasuk meng-'athaf-kan sesuatu yang khusus kepada sesuatu yang umum. Sebab yang namanya kesalahan mencakup segala sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh maupun yang dilakukan hanya sekedar gurauan. Pengulangan yang disebutkan dalam hadits menunjukkan adanya berbagai bentuk pelanggaran yang terjadi pada umat manusia. Dengan mengakui segala kekeliruan berarti menyatakan diri tidak terlepas dari berbagai aib, kecuali orang-orang yang dirahmati Dzat yang Maha Mengetahui Ilmu Ghaib.
Sabda beliau "wakullu dzaalika 'indi," khabarnya mahdzuf (dihapus), artinya kullu dzaalika maujuudun 'indi (semua itu ada pada diriku).
Makna "Engkaulah yang mendahulukan," adalah Engkaulah yang mengedepankan siapa saja di antara makhluk-Mu, sehingga makhluk itu memiliki sifat yang sempurna dan mampu melaksanakan kewajibannya sebagai hamba dan itu semua karena taufiq dari-Mu.
Makna "Yang mengakhirkan," artinya Engkaulah yang mengakhirkan atau membuat siapa saja yang engkau kehendaki menjadi terbelakang. Yakni dengan menghinakannya atau menjauhkannya dari berbagai kebaikan.
Penulis (Al-Hafizh Ibnu Hajar) berkata, "Pada hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhum tercantum bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah membaca doa ini pada shalat malam sebagaimana yang telah lalu keterangannya dan Ali Radhiyallahu Anhu juga pernah membaca doa ini setelah shalat.
Ada perbedaan periwayatan, apakah doa ini diucapkan setelah salam ataukah sebelum salam. Dalam riwayat Muslim tercantum bahwa doa ini dibaca setelah bacaan tasyahhud sebelum salam. Ibnu Hibban mencantumkan dalam Kitab Shahihnya dengan lafazh: "... seusai shalat." Zhahir hadits menunjukkan bahwa doa ini diucapkan setelah salam. Walaupun masih ada kemungkinan doa tersebut dibaca sebelum salam dan ada kemungkinan juga dibaca sebelum dan sesudah salam.

[سبل السلام]
Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram





nasehat-muslim blogpsot co id

Kamis, 25 April 2019

Berdoa kepada Allah agar diberikan Kebaikan Dunia AKhirat

Hasil gambar untuk yufid tv iman


Nasehat Muslim

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إلَيْهَا مَعَادِي، وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
1463. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, "RasulullahShallallahu Alaihi zoa Sallam pernah membaca doa, "Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Baguskanlah urusan akhiratku yang menjadi tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan." (HR. Muslim)
[shahih, Muslim (2720)]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]
Tafsir Hadits
Hadits ini mengandung doa untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat, dan doa ini tidak dapat dijadikan dalil bolehnya berdoa meminta kematian. Akan tetapi, isinya adalah permohonan agar kematian yang akan dialaminya sebagai pelepas dari kejahatan dunia dan buruknya siksa kubur. Karena doa tersebut dalam bentuk umum. Yakni dari semua kejahatan sebelum kematian atau sesudah kematian.

[سبل السلام]
Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram





nasehat-muslim blogpsot co id

Rabu, 24 April 2019

Berdoa kepada Allah Meminta Ilmu yang Bermanfaat

Hasil gambar untuk yufid tv curang


Nasehat Muslim

وَعَنْ أَنَسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ: اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي» رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَالْحَاكِمُ
1464.   Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah membaca doa, "Ya Allah berilah manfaat kepadaku atas ilmu yang telah Engkau ajarkan, ajarkan kepadaku ilmu yang bermanfaat bagi diriku dan anugerahkanlah aku ilmu yang dapat bermanfaat untuk diriku." (HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim)
وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - نَحْوُهُ، وَقَالَ فِي آخِرِهِ: «وَزِدْنِي عِلْمًا، الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَأَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ» وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ
1465. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dengan lafazh yang sama. Pada akhir hadits itu tercantum lafazh, "... tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah atas segala keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan penduduk neraka." (Sanadnya hasan)
[Shahih: At Tirmidzi 3599]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]
Tafsir Hadits
Hadits ini menunjukkan bahwa semua jenis ilmu tidak perlu untuk diminta, kecuali ilmu-ilmu yang bermanfaat saja. Maksud bermanfaat di sini adalah bermanfaat untuk agama dan bermanfaat untuk dunia yang juga berfungsi untuk memperkuat agama. Selain dari itu, maka ilmu tersebut termasuk kategori firman Allah Ta'ala-.
{وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ}
"Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat." (QS. Al-Baqarah: 102)
Yakni tidak bermanfaat untuk agama, karena Islam menampik segala bentuk manfaat yang dianggap ada pada ilmu sihir. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyatakan bahwa ilmu sihir adalah ilmu yang tidak bermanfaat karena ilmu tersebut tidak mendatangkan manfaat untuk hari akhirat. Di samping itu, ilmu sihir dapat merusak dunia seseorang. Bisa jadi mereka merasa bahwa hal itu bermanfat, namun di sisi Allah termasuk ilmu yang tidak bermanfaat

[سبل السلام]
Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram





nasehat-muslim blogpsot co id

Kamis, 18 April 2019

Meminta Kebaikan pada Allah

Hasil gambar untuk muslim.or.id dusta


Nasehat Muslim


وَعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ «اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْت مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْت مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَك عَبْدُك وَنَبِيُّك، وَأَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُك وَنَبِيُّك اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك الْجَنَّةَ، وَمَا قَرَّبَ إلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُك أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْته لِي خَيْرًا» أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.
1466. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengajarkannya doa berikut, "Ya Allah, aku memohon kepadaku seluruh kebaikan, baik yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari semua kejahatan baik yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Yaa Allah, aku mohon kebaikan dari-Mu yang pernah dimohonkan oleh hamba-Mu dan Nabi-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua kejelekan yang hamba dan Nabi-Mu pernah memohon perlindungan dari-Mu dari kejelekan tersebut. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu anugerah surga dan apa saja yang dapat mendekatkan diriku ke surga, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan aku, meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa neraka dan segala perkara yang dapat menjerumuskanku ke dalam neraka, baik berupa perkataan maupun perbuatan. 'Dan aku juga memohon agar takdirku yang telah Engkau tetapkan semuanya baik untuk diriku." (HR. Ibnu Majah dan shahih Ibnu Hibban)
[Shahih: Shahih Al Jami' 1276]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]
Tafsir Hadits
Hadits ini mencantumkan doa untuk memohon kepentingan dunia dan akhirat, memohon perlindungan dari kejahatan dunia dan akhirat, memohon surga dan amalan yang memasukkan seseorang ke dalam surga serta permohonan semoga Allah menetapkan untuknya taqdir yang baik. Sepertinya maksud permohonan ini: seorang hamba harus yakin bahwa segala yang menimpa dirinya itu pasti baik untuknya. Sebab semua yang telah ditetapkan untuk para hamba itu pastilah baik, walaupun menurut si hamba hal itu tidak baik.
Hadits ini juga menganjurkan agar setiap hamba mengajarkan bacaan-bacaan doa yang baik kepada keluarganya. Sebab segala kebaikan yang ia dapatkan itu berasal dari-Nya dan semua kejelekan yang menimpa dirinya itu dikarenakan ulah dirinya juga.

[سبل السلام]
Subulus Salam
Syarah Bulughul Maram




nasehat-muslim blogpsot co id

Kalimat yang dicintai Allah Ta'ala: Subhaanallah wa bihamdihi, Subhaanallaahil 'Azhiim

Hasil gambar untuk muslim.or.id akhlaq


Nasehat Muslim

وَأَخْرَجَ الشَّيْخَانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ»  

1467. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dua kalimat yang dicintai oleh Dzat Yang Maha pengasih, mudah diucapkan dan berat di timbangan: subhaanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) dan subhaanallaahil 'azhiim (MaHa suci Allah dan Maha Agung).
[Shahih: Al Bukhari 6406 dan Muslim 2694]

ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat
"Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Dua kalimat yang dicintai oleh Dzat Yang Maha pengasih, mudah diucapkan dan berat di timbangan: subhaanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) dan subhaanallaahil 'azhiim (Maha suci Allah dan Maha Agung)."
 Hadits ini adalah hadits terakhir yang dicantumkan Al-Bukhari dalam Kitab Shahih-nya. Kemudian setelah itu, sekelompok para imam mengikuti beliau dengan cara mencantumkan hadits ini sebagai penutup kitab-kitab mereka.
Sabda beliau, "Dua kalimat," susunannya sama seperti kalimat syahadat, yakni posisinya sebagai khabar muqaddam (khabarnya lebih dahulu disebutkan dari pada mubtada'-nya).
Sabda beliau: (subhaanallah... hingga akhir) posisinya sebagai mubtada' muakkhar dan ini sah dilakukan walaupun sudah berupa kalimat, karena maknanya sama seperti makna satu lafazh. Adapun khabar dikedepankan untuk menarik perhatian si pendengar agar ia mau menunggu isi dari mubtada' tersebut. Terlebih lagi sebelum penyebutan mubtada' telah disebutkan terlebih dahulu beberapa sifat-sifat mubtada'nya.
Al-habiibah artinya al-mahbuub yakni yang dicintai Allah Ta'ala. Khafiifah atas timbangan faailah artinya faa’ilah, tsaqiilah dan fa'iilah artinya juga faa'ilah. Ath-Thibbi berkata, "Khiffah yang artinya ringan adalah sebuah ungkapan yang artinya mudah disebut oleh lisan, sebagaimana seorang yang sedang mengangkat barang-barang ringan yang tidak membuatnya letih seperti kalau ia mengangkat benda yang berat.

Tafsir Hadits
Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa setiap hukum-hukum yang berat dilaksanakan oleh manusia maka pahala dan timbangannya nanti juga akan berat. Akan tetapi, kalimat-kalimat yang tercantum dalam hadits, walaupun ringan untuk dilaksanakan, namun berat timbangannya.
Sebagian ulama salaf ditanya tentang sebab yang akan memberatkan timbangan kebaikan dan akan meringankan timbangan kesalahan, mereka menjawab, "Yang menyebabkan beratnya timbangan kebaikan yakni di saat seseorang merasa pahit untuk melakukannya dan rasa manis ketika mengerjakan amalan tersebut telah hilang. Sehingga perasaan berat itu akan mendorongmu untuk. meninggalkan amalan tersebut. Yang menyebabkan ringannya timbangan kejelekan yakni di saat seseorang merasa manis untuk melakukannya dan rasa pahit ketika mengerjakan perbuatan jelek tersebut telah hilang. Sehingga perasaan ringan dan mudah itu akan mendorongmu untuk melakukan kejelekan tersebut.
Hadits ini menunjukkan adanya timbangan amalan sebagaimana hal itu juga dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Para ulama berselisih pendapat tentang objek yang ditimbang. Ada yang mengatakan bahwa yang ditimbang adalah lembaran-lembaran amalan. Sebab amalan merupakan benda yang abstrak, tidak mungkin untuk ditimbang berat dan ringannya, sebagaimana hadits yang menyebutkan tentang catatan-catatan amalan dan bithaqah tauhid  yang ditimbang. Para ahli hadits dan muhaqqiq berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amalan itu sendiri dan amalan tersebut akan menjadi sesuatu yang kongkrit di hari akhirat kelak. Dalilnya berdasarkan hadits Jabir, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,
 «تُوضَعُ الْمَوَازِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتُوزَنُ الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ فَمَنْ ثَقُلَتْ حَسَنَاتُهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ ثَقُلَتْ سَيِّئَاتُهُ عَلَى حَسَنَاتِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ دَخَلَ النَّارَ قِيلَ لَهُ: فَمَنْ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُ وَسَيِّئَاتُهُ قَالَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ»
"Akan diletakkan timbangan di hari kiamat nanti untuk menimbang semua kebaikan dan keburukan. Barangsiapa timbangan kebaikannya lebih berat satu biji sawi dari pada keburukannya maka orang ini akan masuk ke dalam surga dan jika ternyata keburukanya lebih berat satu biji sawi dibandingkan kebaikannya maka ia akan masuk ke dalam neraka." Ada yang bertanya, "Bagaimana jika kebaikan dan keburukan itu sama beratnya?" Beliau menjawab, "Mereka itulah yang disebut dengan ashaabul a'raaf."   ‘
Hadits diriwayatkan oleh Khaitsamah dalam Kitabnya Majma' Al-Fawaaid. Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Kitabnya Az-Zuhd dari Abdullah bin Mas'ud dengan sanad yang marfu'.
Secara tekstual, hadits shahih ini menunjukkan bahwa semua amalan anak Adam akan ditimbang tanpa terkecuali. Ada juga yang berpendapat timbangan tersebut khusus untuk orang-orang mukmin yang memiliki banyak kebaikan dan tidak memiliki keburukan sehingga mereka masuk ke dalam surga dengan tidak dihisab lagi, sebagaimana yang tertera dalam hadits tujuh puluh orang yang masuk surga tanpa hisab.
Demikian juga adanya pengecualian bagi orang-orang kafir yang tidak memiliki kebaikan dan tidak juga memiliki dosa selain dosa kafir, karena mereka akan masuk ke dalam neraka dengan tanpa hisab dan tidak ada penimbangan amalan.
Al-Qurthubi menukil dari sebagian ulama dan berkata, "Orang yang kafir tidak memiliki pahala dan kebaikan sama sekali, sehingga tidak ada yang harus diletakkan di daun timbangan. Allah Ta'ala berfirman,
{فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا}
"Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat." (QS. Al-Kahfi: 105)
Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang tercantum dalam kitab Shahih bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«الْكَافِرُ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ»
"Di sisi Allah, orang kafir itu tidak lebih berat dari pada sehelai sayap nyamuk.” [shahih, Al-Bukhari (4729) dan Muslim (2785)]
Dijawab, bahwa hadits ini bermakna majaz yang menunjukkan kehinaan diri orang kafir, bukan berarti ia tidak punya berat sama sekali.

Pendapat yang benar adalah sebagai berikut:
Amalan yang dilakukan oleh orang-orang kafir akan dihisab untuk dua hal:
1.      Bahwa kekafirannya akan diletakkan di daun timbangan, sementara di daun timbangan lain kosong tidak terdapat apa-apa, karena semua kebaikan yang dilakukan orang kafir akan terhapus dikarenakan kekafirannya. Jadi, nilainya seperti seorang yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Al-Qurthubi berkata, "Demikian juga makna zhahir yang tercantum dalam firman Allah Ta'ala,
{وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ}
"Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang, merugikan dirinya sendiri...” (QS. Al-'Araf: 9 , dan Al-Mukminuun: 103)
Ayat ini mengisyaratkan ringannya timbangan orang-orang kafir.
2.      Bisa jadi semasa hidupnya si kafir ini pernah memerdekakan hamba sahaya, berbuat baik, menyambung tali silaturahmi dan berbagai macam kebaikan lainnya yang berkaitan dengan harta. Seandainya ia adalah seorang mukmin, niscaya itu semua akan menjadi pemberat timbangan kebaikannya. Siapa saja yang memiliki kebaikan, maka semua kebaikan tersebut akan dikumpulkan dan akan diletakkan di daun timbangan, kecuali orang kafir. Apabila orang kafir mengimbangi kekafirannya dengan melakukan kebaikan, maka kebaikan tersebut akan menambah berat timbangan kebaikannya. Boleh jadi perbuatan-perbuatan buruk tersebut akan ditimbang, seperti perbuatan zhalim, mengambil harta orang lain, merampok dan lain-lain. Apabila perbuatan buruknya sama beratnya dengan amalan kebaikannya, maka orang tersebut mendapat azab karena kekafirannya. Jika ternyata keburukannya lebih berat dari kebaikannya maka selain mendapat siksaan karena ia kafir, ia juga akan mendapat siksa dari keburukan yang ia lakukan. Dan apabila kebaikannya lebih berat dari keburukannya, maka siksaan yang ia dapati karena kekafiran akan diringankan. Sebagaimana yang tercantum dalam hadits tentang Abu Thalib bahwa ia berada di air yang dangkal di dalam neraka.

[سبل السلام]
Subulus Salam
Syarah Bulughul Maram





nasehat-muslim blogpsot co id

Imam yg Tujuh: Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Attirmidzi, Annasai & Ibnu Majah

Hasil gambar untuk muslim.or.id masjid


Nasehat Muslim

Adapun yang dimaksud dengan imam yang tujuh, yaitu Ahmad, al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah. Yang dimaksud dengan imam yang enam, yaitu para imam selain Ahmad. Juga yang dimaksud dengan imam yang lima, yaitu para imam selain al-Bukhori dan Muslim. Kadang-kadang aku juga mengatakan, "Imam yang empat dan Ahmad." Maksud dari imam yang empat adalah para imam selain tiga imam yang pertama (Ahmad, al-Bukhori, dan Muslim). Adapun maksud dari imam yang tiga, yaitu para imam selain (tiga yang pertama dan 'pent) selain yang imam yang terakhir (Ibnu Majah pent). Maksud dari Muttafaq 'alaihi, yaitu (riwayat) al-Bukhori dan Muslim. Dan terkadang pula aku tidak menyebutkan beserta keduanya (al-Bukhori dan Muslim) selain keduanya. Dan apa yang selain itu, maka hal tersebut telah dijelaskan.

Subulus Salam Syarah Bulughul Maram






nasehat-muslim blogpsot co id

Senin, 15 April 2019

Tafsir Al-Baqarah 213: Taat pada Allah Masuk Surga, Maksiat Masuk Neraka

Image result for muslim.or.id orang tua

Nasehat Muslim

انَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu, maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus
(QS. Al-Baqarah: 213)

Tafsir:

ن الناس جماعة واحدة، متفقين على الإيمان بالله ثم اختلفوا في دينهم، فبعث الله النبيين دعاة لدين الله، مبشرين مَن أطاع الله بالجنة، ومحذرين من كفر به وعصاه النار،

Manusia adalah jama'ah yang satu, bersepakat dalam keimanan kemudian mereka berselisih pendapat dalam agama, maka Allah mengutus Nabi untuk mendakwahkan agama Allah, memberikan kabar gembira bagi yang bertaqwa kepada Allah akan masuk ke surga, dan memberikan peringatan bagi yang kufur dan berbuat maksiat akan masuk neraka



 وأنزل معهم الكتب السماوية بالحق الذي اشتملت عليه ليحكموا بما فيها بين الناس فيما اختلفوا فيه
Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dari langit dengan kebenaran untuk menjadi hukum dalam perselisihan diantara mereka

الميسر — مجمع الملك فهد
Tafsir Al-Muyassar, Majma' Malik Fahd,
Kementrian Agama, Wakaf, Dakwah, Madinah, Saudi Arabia, https://furqan.co/muyassar/2/213






nasehat-muslim blogpsot co id

Rabu, 10 April 2019

Tafsir Al-Baqarah 212: Orang Kafir Tertipu Kehidupan Dunia

Gambar terkait

Nasehat Muslim

يِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas" (QS. Al-Baqarah: 212)

Tafsir:

حُسِّن للذين جحدوا وحدانية الله الحياةُ الدنيا وما فيها من الشهوات والملذات، وهم يستهزئون بالمؤمنين. وهؤلاء الذين يخشون ربهم فوق جميع الكفار يوم القيامة حيث يدخلهم الله أعلى درجات الجنة، وينزل الكافرين أسفل دركات النار. والله يرزق مَن يشاء مِن خلقه بغير حساب
Kehidupan dunia serta apa yang ada didalamnya berupa syahwat dan kelezatannya dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang menentang keesaan Allah, mereka mengejek orang yang beriman

الميسر — مجمع الملك فهد
Tafsir Al-Muyassar, Majma' Malik Fahd,
Kementrian Agama, Wakaf, Dakwah, Madinah, Saudi Arabia, https://furqan.co/muyassar/2/212





nasehat-muslim blogpsot co id

Rabu, 03 April 2019

Tafsir Al-Baqarah 211: Bersyukur atas Nikmat Agama dan Dunia

Hasil gambar untuk muslim.or.id


Nasehat Muslim

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Tanyakanlah kepada Bani Israil: "Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka". Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya (Al-Baqarah: 211)

Tafsir:

يقول تعالى: ( سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ) تدل على الحق، وعلى صدق الرسل، فتيقنوها وعرفوها، فلم يقوموا بشكر هذه النعمة، التي تقتضي القيام بها.
Tanyakanlah kepada Bani Israil: berapa banyaknya tanda-tanda yang nyata, menunjukkan pada kebenaran, dan atas kebenaran Rasul, yang meyakinkan dan yang mengabarkan, namun mereka tidak bersyukur dengan nikmat

بل كفروا بها وبدلوا نعمة الله كفرا، فلهذا استحقوا أن ينزل الله عليهم عقابه ويحرمهم من ثوابه، وسمى الله تعالى كفر النعمة تبديلا لها، لأن من أنعم الله عليه نعمة دينية أو دنيوية، فلم يشكرها، ولم يقم بواجبها، اضمحلت عنه وذهبت، وتبدلت بالكفر والمعاصي، فصار الكفر بدل النعمة،
Bahkan mereka kufur dan mengganti nikmat Allah, maka siksaan Allah turun kepada mereka, dan mereka diharamkan dari pahala, nikmat Allah atas mereka adalah nikmat agama dan dunia, namun mereka tidak bersyukur, tidak menjalankan kewajiban, mereka mengganti nikmat kebaikan dengan kekufuran dan kemaksiatan, mereka kufur karena mengganti nikmat Allah, 

وأما من شكر الله تعالى، وقام بحقها، فإنها تثبت وتستمر، ويزيده الله منها
Adapun orang yang bersyukur kepada Allah, menjalankan kebenaran, senantiasa istiqomah, maka Allah menambah nikmat

الميسر — مجمع الملك فهد
Tafsir Al-Muyassar, Majma' Malik Fahd,
Kementrian Agama, Wakaf, Dakwah, Madinah, Saudi Arabia, https://furqan.co/saadi/2/211







nasehat-muslim blogpsot co id